Bulan Puasa, Bulan Rebutan Lahan Sholat
Nah, yang namanya 'rebutan', tiap tahun pasti makan korban. Begitu juga tahun ini. Dari nyokap, gue baru tahu ternyata ada seorang ibu yang pas adzan Isya' datang dan menggusur sajadah yang udah 'antri' di
Udah, deh. Begitu yang punya datang, pertempuran segera meletus. Buntut-buntutnya, nyokap gue yang kudu ngalah berbagi tempat supaya kedua pihak yang bertempur itu sama-sama dapat tempat sholat.
Hanya saja, kejadian ini akhirnya dibahas sampai ke sidang paripurna keluarga pas sahur.
"Kalau kamu gimana?" tanya nyokap gue.
"Anggap aja ini kaya' antri di kasir. Emang kalau barang bisa dianggap antri?" tanya gue balik.
Di luar dugaan gue, nyokap gue ngomong, "Iya."
Ha?
"Kalau ada troli di depan kasir, ya yang belakang ngedorong."
Buset, dah!
"Walaupun orangnya nggak ada?"
Nyokap gue diam sesaat. Pada saat itu adik gue langsung buka suara.
"Jadi ingat, nggak mbak? Waktu kita ke Hero dulu, ada troli di depan kasir. Karena nggak ada orangnya, kita langsung masuk ke kasir. Eh, orangnya yang lagi milih barang langsung balik dan ngamuk-ngamuk, Eh mbak jangan nyelonong aja! Baru ditinggal sebenar udah nyelonong."
Yup, gue ingat hari itu. Benar-benar orang yang menyebalkan. Padahal jelas-jelas orangnya gak ada dan cuma ada troli yang menutupi jalan kasir. Karena gak ada yang ngejagain sementara kasir kosong, ya langsung aja gue ke kasir. Eh, orangnya datang dan ngamuk-ngamuk. Gimana gue tahu dia yang punya troli? Emangnya gue mind reader?
Pembicaraan terus berjalan sampai akhirnya gue lempar ke bokap gue.
"Emang di luar negeri juga gitu?" Gue ingin tahu apa ini etika antri ini berlaku di seluruh dunia atau ala
"Ah, itu sih cuma
Jadi, rupanya di
What do you think?
Friday, September 22, 2006
Australia Semakin Dekat, Dee Semakin Panik
Semakin dekat, perasaan gue semakin campur aduk. Sedikit senang, tapi lebih banyak panik, pusing, dan stress. Kalau soal senang, kaya'nya gak usah dikasih tahu, deh. Yang panik dan stress ini.... Halah. Kalau disuruh milih antara pergi dan tidak pergi, mungkin gue akan memilih tidak pergi. Terus terang, kerjaan lagi banyak-banyaknya sekarang. Untuk menyerahkan semuanya pada junior gue, rasanya gue belum bisa percaya 100%.
"Tenang aja, Dee. Tenang aja. Ada saya, ada benda satu itu." Bos nunjuk ke junior gue.

Dan karena mau tidak mau gue harus melampiaskan eh... melimpahkan kerjaan itu pada dia, gue harus menyelesaikan editing awal biar kerjaan dia lebih cepat dan teratur.
Di antara semua kekacauan ini, orang-orang malah kelihatan senang dan mendukung gue pergi ke Australia.
Bos : "Sudah saatnya kamu terbang."
Pak Joko bagian foto kopi : "Nggak pa-pa, mbak. Ke sana bulan puasa, amalnya malah gede."
Maya : "Gue titip koala setengah aja, ya?"
Kok setengah?

Maya: "Kan kalau satu terlalu gede."
Nyokap: "Siapa tahu kamu ketemu jodoh di sana."
Adik No. 1: "Siapa tahu ketemunya di sana."
Lho? Kenapa malah pada ngomongin jodoh? Emang gue mo berburu cowok di sana, apa? Orang mo berburu ikan pari yang ngebunuh Steve Irwin! (By the way, gue tahu kok cara mengenali pelakunya. Tinggal cari aja ikan pari yang nangis di pojokan)
Jadi, inilah gue. Segala yang ada di dunia gue rasanya berantakan. Deadline tulisan gue juga berantakan, sama kacau balaunya dengan kerjaan gue di kantor yang kudu beres. Persiapan membeli barang-barang ke Aussie juga berantakan. Padahal belum beli sweater, sepatu baru (nggak punya sepatu jalan, nih), ngadepin puasa lagi... halah..halah..halah... pusing!

Monday, September 18, 2006
Duniaku Berputar Cepat...
Dan itu terjadi tiap hari, setiap saat. Begitu lurus sampai akhirnya kita bertanya sendiri, "Sebenarnya gue mau ke mana, sih?" Kadang, ada godaan untuk berganti arah atau berhenti dengan sendirinya. Tapi panggilan itu hilang dengan sendirinya karena kita takut atau tidak ada suatu hal yang memaksa kita berganti arah (misalnya tiba-tiba ada orang yang teriak, "Ada TSUNAMIIIIIII!")
Nah, hidup seorang Dee bisa diandaikan seperti itu. Hidup yang lurus-lurus aja. Monoton. Kalau hidup gue difilmkan, dijamin orang sudah mematikannya lima menit pertama saking garingnya.
Kadang, gue suka protes sama Tuhan. "Tuhan, kenapa hidup gue gini-gini aja, sih!"
Lalu, mendadak beberapa minggu yang lalu datang tawaran untuk pindah divisi. I was speechless, really speechless. Kadang terlintas memang pikiran untuk pindah divisi. Karena di sana, gue bisa dapat pengalaman baru. Memang, masih rencana, tapi tetap saja, gue merasa dunia gue mulai bergeser.
Belum selesai rasa shock gue akan tawaran itu, mendadak bos besar membuat rencana besar buat gue. Katanya...masih katanya... ada rencana untuk mengirim gue belajar ke luar negeri. Yang ini, double shock. Saking shocknya, gue lupa untuk menyiapkan dokumen-dokumen paspor. Udah deh kena semprot.
Yah, gimana nggak shock. Rasanya, gue tuh tipe terakhir yang bakal dilirik perusahaan buat belajar ke luar. Selain itu masih banyak teman seangkatan gue yang lebih layak dan sepertinya lebih berguna buat perusahaan dibandingkan gue. Kenapa gue? Kenapa?
Dunia gue, ampuun... rasanya berputar cepat banget. Rasanya seperti orang yang tengah berjalan kaki di sore hari, menatap matahari tenggelam (dan dia sudah bosan dengan matahari itu tapi tidak punya pilihan lain), mendadak ada tangan yang menarik dia supaya naik ke atas ke kendaraan. Dan kendaraan itu bisa terbang! OMG!
Ada perasaan kaget, bingung, stress, juga takut. Iya, gue takut. Gue nggak tahu masa depan apa yang ada di depan gue. Gue bahkan gak tahu bakal lebih baik atau lebih buruk.
Ah, Tuhan. Dikau kok serius, banget sih. Daku kan cuma bercanda!
Thursday, September 14, 2006
Sehari di Imigrasi


Hari Rabu kemarin, gue pergi ke Imigrasi Jakarta Selatan buat ngurus paspor. Sebenarnya gue pengen ngurus sendiri, tapi karena ada orang kantor yang biasa ngurusin dan kata bos gue, tidak baik merebut 'rezeki' orang lain, yah apa boleh buat. Toh gue cuma datang, nampang buat photo session (baca: diambil fotonya), book signing (baca: ambil sidik jari dan tanda tangan), dan press conference (baca: wawancara ama petugas imigrasi). Udah itu aja.
Biarpun gue gak ngeluarin duit sepeserpun, tetep aja rasanya miris melihat situasi yang ada. Calo emang gak terang-terangan banget ada. Tapi rasanya setiap orang yang ngurus paspor di
Artinya apa? Tentu saja keberadaan 'pendamping' ini diakui oleh para petugas.
Mau ngurus sendiri? Iseng-iseng gue ngelihat papan alur pengurusan paspor. Gila, panjang bangat. Udah gitu, kayaknya gak jelas dari mana dan ke mana kudu ngurus. Belum lagi antrian saat foto yang begitu mudah diserobot. Artinya apa lagi? Gue nggak mau berburuk sangka, tapi sepertinya emang tidak ada kemauan dari pihak birokrat sendiri untuk menciptakan sistem yang bersih. Itu sama dengan memotong bagian dasar dompet sendiri,
Akhirnya, gue sampai pada bagian terakhir wawancara. Dengan jelas, gue melihat duit dari ‘pendamping’ gue, berada di dalam map dokumen gue. Jumlahnya mungkin nggak banyak, paling sekitar Rp 15.000,00.
Sambil diwawancarai, gue memandang pewawancara gue. Dia masih muda, mungkin seumuran gue. Gue berpikir, kalau ada korupsi, ya biar saja yang tua yang melakukannya. Toh sudah bau tanah dan emang gak bisa diubah lagi sifatnya.
Tapi, melihat mbak petugas yang begitu muda sudah terlibat ke dalam 'lingkaran korupsi' ini, gue merasa ngilu. Rasanya seperti sudah capek-capek membuang rumput lama yang jelek, hanya untuk memendapatkan tunas baru yang jelek setelah membuang tunas yang lama.
Sambil pulang, gue berpikir. Dulu, seorang blogger pernah mengatakan untuk membersihkan Indonesia, Indonesia ini harus diHiroshima-kan. Harus dihancurkan hingga habis dan dibangun dari nol. Dia ngomong dalam konteks Sinetron Indonesia, sih. Tapi rasanya bisalah kita pakai untuk kasus ini.
Jauh di dalam hati saya, saya berharap tidak. Semua bencana ini sudah lebih dari cukup, Tuhan. Tapi kenapa ya, jalan menuju ke Indonesia Bersih rasanya lebih jauh daripada jalan kaki ke Neptunus? (Pluto dah bukan planet, katanya)
Sunday, September 10, 2006
Asemka: Surga Belanja Asesoris
Wilayah Jakarta Kota emang terkenal surga belanja. Dari glodok yang jadi surga belanja elektronik hingga Mangga Dua yang terkenal miring harga baju, tas, dan lain-lain. Tapi untuk asesoris, cuma di Asemka yang harganya miring. Bahkan lebih murah daripada beli di Mangga Dua.Lokasi



Gampang dicapai. Naik busway sampai stasiun kota, jalan sekitar sepuluh menit ke arah flyover jembatan lima. Bisa juga naik kereta api sampai stasiun kota atau bis atau mikrolet yang lewat stasiun kota atau museum bank mandiri. Sepertinya ada mikrolet dari tanah abang yang lewat Asemka, tapi saya nggak tahu nomer berapa.
Jalan kaki dari busway nggak begitu nyaman karena biasanya kudu mengeluarkan jurus kaki seribu buat berkelit dari kejaran angkot, bajaj dan (tentu saja) busway. Sudah begitu, jalan menuju Asemka tidak terlalu nyaman karena tiada pohon pelindung dan trotoar biasanya sudah diserobot pedagang kaki lima.
Tapi semuanya gak masalah kalau kamu bawa mobil sendiri.
Ini petanya.

Tempat


Biarpun wujudnya gedung, tapi kondisinya nggak begitu terawat, mirip pasar tradisional minus bau ikan. Yah kira-kira kaya Pasar Pagi Mangga Dua tapi turunin 2 level. Cukup nyaman sih buat saya. Nggak ada AC, jadi kalau sudah terlalu banyak pengunjung lumayan bikin gerah. Ada beberapa toko yang rapi seperti di mall, tapi lebih banyak yang biasa-biasa aja.
Oh, ya. Tidak ada tempat sampah.
Keamanan

Sejauh ini untungnya belum pernah dicopet. Soal keamanan mobil juga tidak tahu. Tapi seharusnya aman karena pakai model secure parking gitu. Tapi, tetaplah waspada.
Harga





Harga? Ho..ho.. jangan ditanya!. Itu tujuan utama saya rela berburu sampai ke Asemka. Asemka tempat yang sempurna bagi yang berniat menjual barang lagi. Selisih harga di Asemka berkisar antara 2 – 3 X lipat, mungkin bisa lebih kalau beli grosir.
Sebagai contoh kalung di Asemka yang dibandrol seharga Rp 25.000,00 bisa naik jadi Rp 60.000,00 (belum ditawar) di ITC Kuningan. Jepit rambut di Asemka yang harganya Rp 12.000,00 jadi Rp 40.000,00 (belum ditawar) di Mangga Dua Mall yang jaraknya hanya sepuluh menit dari Asemka. Bros yang harganya Rp 10.000,00 bisa jadi Rp 25.000,00 di salah satu pameran kerajinan tangan.
Barang




Asesoris yang dijual di Asemka beragam. Mulai dari kalung, jepit rambut, bros, ikat pinggang, hingga asesoris buat cowok. Ada yang dari plastik, besi, tapi banyak juga yang dari manik-manik. Pokoknya yang kamu lihat di toko asesoris imitasi kemungkinan besar bisa kamu temukan di Asemka. Soal kualitas, mungkin bukan kualitas no.1, tapi sebandinglah dengan harganya. Yang penting, teliti membeli barang supaya gak kecewa.
Pelayanan


Nggak terlalu ramah. Ada sih beberapa yang ramah (banget), tapi nggak banyak. Malah ada yang ogah-ogahan ngambil barang sampai membuat mood belanja saya hilang. Atau karena saya beli eceran?
Fasilitas Pendukung


Ada mesjid di bawah fly over. Tempat makan ya adanya kaki lima. Fast Food terdekat (A&W) ada di Stasiun Kota. Walau belum pernah ke toilet, kaya’nya gak disaranin ke sana, deh.
Tips & Trick Belanja
- Kalau emang mau beli satuan, tanya dulu pada penjaganya, barang dijual satuan atau tidak? Ada beberapa toko yang ogah melayani eceran. Daripada udah capek-capek milih ternyata nggak boleh beli satuan?
- Semua barang dibandrol berdasarkan harga grosiran. Jadi pakai kemampuan matematikamu untuk menghitung harga satuannya.
- Kalau bego matematika seperti saya, ya udah tanya langsung aja berapa harga satuannya. Sebuah kalung yang harga satuannya (kalau beli grosir) Rp 10.000,00 dilepas dengan harga Rp 15.000,00 (karena beli satuan).
- Mau lebih hemat lagi? Bawa teman dan ajak membeli barang yang sama. Kalau beli grosir (minimal 3), harga bisa lebih murah daripada satuan walau mungkin selisihnya gak banyak
- Kebijakan tiap toko beda. Ada yang mau ngelepas barang kalau beli minimal 3, ada yang maunya jual lusinan, ada juga yang nggak keberatan jual satuan. Keliling aja dulu sebelum ngambil keputusan beli.
- Datang lebih pagi. Di hari minggu, Asemka mulai ramai sekitar jam 10.30. Saya pernah dikasih harga penglaris. Lumayan.
Asemka Round 3
"Asemka? Apaan tuh?"
"Katanya di sana murah-murah souvenirnya."
"Nggak tahu. Cari aja di Pasar Pagi atau Jatinegara."
Eh, itu anak malah nyari di Semarang, kampungnya sendiri.
Kata itu kembali mencuat saat Mbak Ika memamerkan gelang hasil perburuannya di Asemka bersama rombongan ibu-ibunya dalam rangka membeli hadiah tujuh belasan. Sebagai catatan, di Asemka juga dijual mainan anak dan alat tulis yang murah.
"Di sana murah-murah, Dee. Bisa sepertiganya harga toko."
"Masa’ sih?"
Penasaran, saya memutuskan untuk mencari Asemka. Sialnya, pelacakan pertama saya gagal lantaran saya melupakan satu petunjuk penting.
"Di bawah jembatan layang, ada tempat parkir kaya’ sercure parking gitu. Nah, ada gedung di sebelahnya. Ya itu Asemka."
Walah! Saya hanya ingat bagian bawah jembatan layangnya saja. Duh! Makanya saya kok hanya dapat belanjaan spidol papan tulis murah dan hiasan kaligrafi saja. Mana bagian asesorisnya?
Ugh! Akibatnya, keesokan harinya, saya berakhir dengan satu tambahan cap pelupa di jidat saya. Tahu yang lebih bodoh lagi? Lokasi Asemka bisa dilacak pakai google earth yang ada di kompie saya.
Artinya? Coba dari awal saya buka peta dulu!
Dikasih petunjuk baru, saya semakin penasaran. Apalagi rombongan lain yang juga ke Asemka berhasil menemukan Asemka tanpa pakai acara nyasar. Masa saya nggak berhasil menemukan Asemka?
Minggu berikutnya, saya pergi bersama adik saya. Berhasil! Seperti yang dikatakan teman saya, Asemka memang murah banget kalau dibandingkan dengan harga toko!
Berhasil menemukan Asemka membuat saya seperti ketagihan. Minggu kemarin (10/9/06), saya berhasil menyetani Maya dan Mila untuk pergi ke Asemka. Biar deh badan masih sedikit meriang. Yang penting saya bisa puas belanja.
Dan memang saya puas. Puas banget. Saya nggak bosan-bosannya ngeliatin koleksi saya. Bahkan saya jadi ingin merancang dan membuat asesoris sendiri, terutama kalung dan gelang. Katanya sih ada tempat kursusnya. Ada yang tahu?