Lega....
Hari ini gue merasa sedikit lega lantaran target nulis cerita buat lomba cerita misteri Bobo tercapai. Akhirnya, kerja keras sampai jam satu malam nggak sia-sia. Cerita sudah masuk amplop dan siap dikirim. Soal menang atau kalah, hmm... sekali lagi itu nggak penting. Malah ada yang bilang beban jadi pemenang lebih berat daripada jadi loser. Karena selama ini gue selalu jadi loser, hehehehe.... yah terasa gak ada beban.
Ceritanya sendiri merupakan cerita yang sudah ada di otak gue semenjak beberapa bulan. Mungkin gak terlalu spesial, tapi gue suka. Mungkin karena idealisme gue lumayan nyampe di cerita itu. Seperti kata putri, gue ternyata emang menyukai cerita bertema lingkungan hidup. Dan karena kemarin baru aja banjir, semoga cerita seperti ini yang mendapat perhatian dari juri.
Ada satu lagi cerita yang terpikirkan. Temanya sedikit berbau hantu dan detektif. Memang masih ada satu minggu lagi sih kalau mau ngebut, tapi gue nggak yakin. Sebagian karena terasa gak original (emang kata orang nggak ada originalitas lagi di dunia ini, but still....) dan sebagian lagi karena gue pengen cepet-cepet ngegarap novel gue yang selalu mentok di tahap ide.
Ah, tau deh bakal diterusin nggak (ide cerpennya! bukan novelnya!).
Sunday, February 11, 2007
Manusia Jakarta (Mungkin) Takkan Berubah
Tapi nyatanya nggak. Atau paling nggak, ada yang nggak belajar dari kejadian yang baru lewat tujuh hari yang lalu. Tujuh. For God's sake!
Minggu pagi kemarin, saya mendapat pemandangan yang tak terduga.
Setelah keinginan saya untuk berbelanja tertunda selama satu minggu, akhirnya minggu kemarin saya memutuskan untuk pergi ke Metropolitan Mall, Bekasi Barat. Tas saya sudah meraung-raung mencari replacementnya sementara boss menyuruh saya survei pacar eh pasar kecil-kecilan di toko buku. (Sejujurnya, alasan pertama lebih kuat. *ngaku*)
Begitu melewati pinggiran kali malang, sebuah mobil sedan melintas di depan saya dan melakukan perbuatan yang paling nista yang seharusnya tidak dilakukan oleh manusia beradab kota yang berasal dari kelas yang seharusnya tidak melakukan hal seperti itu! Ia membuka jendela samping dan whuuurrr..... belasan potongan kertas melayang.
Saya melongo. Tiga detik kemudian, saya berteriak, "Bego! Manusia kaya' loe tuh yang bikin Jakarta banjir!" Saya berharap dia mendengar apa yang saya katakan. Ternyata di dunia ini masih ada manusia yang lebih bodoh dari keledai. Tidak mau belajar dari apa yang baru saja terjadi.
Ini bukan soal kertas, demi Tuhan. Ini soal mental yang menganggap bahwa sampah memiliki kaki dan bisa jalan sendiri ke kotak sampah.
Walaupun terlalu naif untuk mengatakan bahwa membuang sampah adalah satu-satunya alasan tunggal mengapa Jakarta banjir, tetap saja kita semua tahu mental tidak menghargai lingkungan itu yang membuat Jakarta banjir.
Kejadian itu, terus terang, membuat saja sedikit pesimis. Akankah orang-orang Jakarta berubah setelah banjir 2007? Apakah Ciliwung tidak akan menjadi tempat buang sampah lagi? Akankah orang menangis saat pohon ditebang dan situ dijadikan mall? Saya kok tidak yakin.
PS: Seorang pakar iklim mengatakan bahwa tahun 2100, Istana Merdeka akan tenggelam kalau Jakarta masih aja begini. Tapi saya yakin akan banyak orang yang mengatakan, ngapain peduli? Toh 100 tahun lagi kita semua belum tentu hidup.