Nyari Makanan Halal di Sydney
Nyari makanan halal di Sydney itu susah-susah gampang. Susah karena... well... ini negeri bule yang mayoritas nggak peduli dengan masalah halal haram. Jadi kebanyakan restoran di sini penuh dengan babi atau wine atau alkohol dan sebangsanya. Buat muslim kaya' gue, hal ini masalah banget. Terutama saat pertama-tama datang ke Sydney. Terus terang, saat pertama kali datang, hal ini bikin gue pusing. Gue dapat tempat tinggal di daerah north sydney, tempat yang mayoritas penghuninya adalah.... bule. (yeah, you could say, "This is sydney. What do you expect?). Jangankan cari yang halal, nyari yang nggak masak babi aja susahnya ampun-ampun.Akhirnya, gue memperlunak kebijakan gue sendiri. Kalau gue maksa nyari makanan halal, bisa-bisa gue malah kelaparan atau lebih parah lagi.... maag gue kambuh. Huhuhu.... percaya deh. Sakit di negeri orang adalah hal terakhir yang pengen loe dapatin. Sekarang gue berprinsip, asal gak makan babi atau gak minum alkohol, nggak pa-pa deh. Tapi kalau bisa, dan kalau situasi memungkinkan, gue nyari makanan halal.
Alhamdulillah, namanya orang niat kali ya bo, akhirnya sedikit demi sedikit gue berhasil menemukan tempat-tempat yang menjual makanan halal. Dan tempatnya bukan hanya di Auburn yang nun jauh di sana dekat Sydney Olympic Park atau Kingsford yang dekat dengan airport.
Gue menemukan masakan halal di pusat kota sydney (atau daerah city menurut orang sini. Artinya... daerahnya siti nurhaliza... hehehehehe zayoes.com).
Setidaknya ada tiga tempat restoran halal di daerah chinatown.
Yang pertama, pondok selera di dixon food court. Dixon food court itu ada di sussex street, cuma 500m dari market city, haymarket, chinatown. Terus terang, gue belum sempat nyoba karena pas gue nemu, gue udah makan siang. Di sebelah pondok selera ada yuni's kitchen, tapi gue nggak tahu halal atau nggak masakannya. Oh ya, dua-duanya menyediakan masakan Indonesia.
Yang kedua, masih di daerah chinatown juga. Kira-kira 500m dari Dixon Food Court. Pokoknya jalan aja ke arah Darling Habour. Kalau nggak salah namanya Harbour Food Court. Masuk aja ke bawah, dan counter pertama yang kamu temui ya resto halal itu. Sori, gue lupa namanya. Tapi, gue udah nyoba dan lumayanlah buat mengingatkan ama Indonesia.
Yang ketiga ada di depat market city persis. Dia menyediakan masakan cina dari daerah Uighur. Gue belum pernah nyoba, jadi nggak bisa komen. Tapi, gue pengen banget nyoba dan gue udah berjanji ama diri gue sendiri bakal nyoba makanan yang satu ini.
Oh ya, kalau kamu pengen nyari lebih banyak lagi restoran halal yang ada di sydney, kamu bisa lihat daftarnya di sini.
http://islamicsydney.com/directory.php?dircat=3
Labels: halal food, sydney
Friday, November 17, 2006
Nonton Football (2)
Nah, pertandingan makin seru lantaran penonton juga mulai ikut-ikutan, teurtama yang ada di baris bawah. Kebetulan gue ada di baris tengah-tengah. Wah, pokoknya boleh deh nyaingin bonek Surabaya. Cuma bedanya kalau mereka ngamuk karena mabuk, kalau bonek itu ngamuk karena....... lapar.
Labels: Aussie, football, Rugby
Thursday, November 09, 2006
Nonton Football (1) Ah.... Kok Sama Sih Kaya' Dulu?
Monday, November 06, 2006
Mati Bangkrut Ala Sydney
Sydney tuh salah satu kota yang biaya hidupnya tertinggi di dunia, paling gak di Australia. Karenanya, jangan heran kalau Sydney juga pinter bikin orang bangkrut, terutama orang-orang dari negara kere macam gue. Karenanya, kalau loe emang mo pergi ke Sydney, berhematlah dengan cara-cara berikut ini.- Beli semua barang yang bisa dibeli di tanah air, terutama barang-barang yang gak penting tapi ternyata dibutuhin, mulai dari peniti, kaos kaki, obat batuk, tissue, ampe cotton buds. Beli juga sandal jepit kalau perlu lantaran di sini sandal jepit paling murah harganya $3 (Kalikan dengan 7500 coba!)
- Buat trasport harian, beli deh travel ten atau travel pass. Lumayan bisa menghemat sekitar 20%.
- Kalau nemu voucher diskon, jangan malu-malu buat nyimpan dan memakainya.
- Kalau ke Sydney dalam rangka belajar, jangan malu-malu pakai student card. Ada beberapa tempat di mana student card bisa bikin kita dapat diskon. Untuk masuk IMAX Theater, misalnya. Biaya aslinya tuh $18, tapi dengan student card kita bisa dapat $14. Mayan, kan?
- Orang Indonesia tuh kebanyakan porsi makannya gak gede. Jadi, belilah porsi yang kecil atau bawa tempat makan jadi bisa dimakan lagi. Oh, ya. Berbagi makan siang juga bisa tuh. Terutama dengan sesama orang Indonesia yang kere.
- Belanjalah di pasar tradisional. Tapi, tetap hati-hati liat harganya. Kalau beli souvenir di Paddy Market, misalnya, harganya emang lebih murah tapi selisihnya gak banyak. Coba bandingkan dengan beberapa tempat sebelum memutuskan untuk beli.
- Salah satu supermarket favorit gue adalah ALDI. Barang-barang di sana lebih murah dibandingkan tempat lain lantaran semua produk yang dijual di ALDI tuh ya barang-barang produksi dia sendiri. Jangan harap ketemu produk nestle atau unilever, sih. Tapi kualitasnya tetap bagus kok. Dan harganya murah banget. Kayak body foam. Di toko, pada umumnya harganya berkisar antara $5, tapi di ALDI cuma dibandrol $2.
- Jangan malu-malu buat tanya ama temen di mana tempat belanja murah.
Thursday, November 02, 2006
Jadi Muslim Di Sydney (1): Gara-Gara Mullah Itu....Huh!
Selama beberapa hari pertama di Sydney, situasi sebenarnya baik-baik saja. Gue merasa cukup disambut dan menerima keramahtamahan ala orang Australia seperti: kalau naik bis, kita sebaiknya nyapa supir bisnya dan bilang "thanks" kalau turun, ngucapin "good morning" ama siapa aja yang kita temui di pagi hari, dan lain-lain. Gue merasa segala sesuatu akan baik-baik aja.
Lalu terjadilah yang gak gue harapkan. Seorang mullah dari Libanon, Hilaby, membuat perumpamaan bahwa perempuan yang gak pakai jilbab atau yang memakai pakaian terbuka dan nggak dijaga itu sama dengan daging yang teronggok di taman. Jangan salahkan kalau ada kucing yang ngambil.
Secara pribadi, gue kaget waktu ngebaca itu. Apa? Seenaknya aja ngerendahin kucing! Emangnya semua kucing bakal begitu apa? Gue kurang jelas dia ngomong seperti itu dalam rangka apa lantaran media juga gak terlalu fokus pada hal itu. Yang jelas, dia ngomong gitu pas dia khotbah. Dan yang lebih parah lagi, dia ngomong seperti itu beberapa hari setelah selesai digelarnya pengadilan atas sekelompok anak muda timur tengah (yang kebetulan beragama Islam) yang memperkosa cewek bule. Anjiirrr....
Terang aja omongan kaya' gini jadi santapan wartawan. Begitu juga di rumah. Selama ini, gue berusaha nunjukin kalau jadi muslim itu juga bisa jadi asyik, jadi cool, nggak aneh atau apa. Tapi dengan omongan ember yang satu ini, entah kenapa gue merasa host mother gue agak sedikit jadi nyolot. Gak setiap saat sih. Tapi kalau udah ngomongin masalah ini, kayak'nya gue agak merasa diserang.
Iya, gue tahu dia ngomongin tentang kelakuan segelintir orang yang emang brengsek dan gue rasa dia juga nggak menyamaratakan semua muslim itu brengsek, tapi tetap aja...... *narik nafas panjang banget*.
Dia lalu cerita tentang kelakuan cowok muslim di Jerman, terutama yang keturunan Turki. Dia cerita gimana ada cowok Turki yang brengsek menghamili cewek Jerman tapi kemudian nggak mau tanggung jawab dengan alasan, "Gue nggak bakal pernah mau nikah ama cewek bule."
Gue (dan dia juga) tahu kalau namanya cowok brengsek di mana-mana juga ada. Mo muslim, kristen, gak punya agama sekalipun, yang brengsek juga ada. Hanya aja dari caranya ngomong, ya itu... gue merasa diserang. Dia ampe ngomong, "Coba kalau gue ngomong kayak gitu di negara Islam, gue pasti dipenggal!"
He? Kayaknya gue nggak pernah dengar cerita orang dipenggal gara-gara ngomong seperti itu. Ya, paling gak di Indonesia, sih. Paling-paling dideportasi aja. Gue bilang, itu gak mungkin deh. Tapi dia tetap yakin banget kalau itu yang akan terjadi padanya kalau ngomong seperti mullah itu.
Yah, gue mo ngomong apalagi. Ngomong ama tiyang sepuh mah susah….