The Art of Losing
Saya nggak menang lomba menulis sayembara bobo. Lagi. Saya rasa mungkin karena gaya cerita saya beda banget dengan gaya Bobo. Dan mungkin kesannya terlalu adult. Well, ya udah. Ntar coba ke majalah lain aja.Terus juga saya nggak ikutan lomba menulisnya Bango lantaran saya nggak mau bohong pada diri sendiri. Tema lombanya kan pengalaman yang menyenangkan di Festival Jajan Bango. Lah, gimana mau menyenangkan kalau mau beli aja pada ngantri semua? Bisa sih tipu-tipu dikit dan ngibul menganggap antri adalah bagian dari perjuangan.. bla..bla..bla... but somehow deep down inside, saya malas saja melakukan hal seperti itu. Meskipun duitnya lumayan gede.
Saya juga gagal di lomba menuliskan impian Caring Care. Bukan karena tulisan saya jelek (rasanya, sih) tapi lebih karena mimpi saya (mimpi menjadi seorang penulis) mungkin nggak begitu keren. Seharusnya saya menulis mimpi menyelamatkan dunia dari kelaparan aja kali ya.
Tapi ndak pa-pa. Saya rasa, kegagalan memberikan pelajaran lebih banyak daripada keberhasilan itu sendiri. Keberhasilan adalah akhir dari proses sementara kegagalan adalah pelajaran menuju proses keberhasilan itu. Lagipula, saya lagi berusaha positive thinking. Mungkin Tuhan sedang bersikap adil. Mungkin kalau saya menang salah satu di antara lomba itu, justru Tuhan yang nggak adil. Mungkin sebentar lagi saya akan memenangkan sesuatu yang lebih berharga. Apapun itu.
Lagipula saya nggak sendirian kok. Masih ada timnas kita yang kalah. Saya mencoba memposisikan diri saya seperti mereka. Mungkin kekalahan hanyalah pertanda. Pertanda kalau kita harus berjuang lebih keras. Pertanda kalau kita harus bersabar sedikit lebih lama untuk mencapai keberhasilan. Dan saya, juga seperti itu.
Labels: loser
Sunday, July 15, 2007
Saya Belajar Sesuatu Setiap Hari....
Kata kolega saya, selalu ada yang dipelajari editor setiap hari. Mulanya, saya nggak menganggap terlalu penting hal ini. Tapi lama-lama perkataannya ada benarnya juga. Seperti saat saya browsing bahan tulisan di Internet. Selalu saja saya end up di situs yang membawa pencerahan atau kalau kata pencerahan terlalu tinggi, paling tidak saya selalu belajar sesuatu yang baru sebagai seorang editor.
Misalnya ini. Salah satu naskah yang saya tangani menyebutkan nama Douwes Dekker. Tahu kan siapa Douwes Dekker? (please check your IPS SD book for reference) Waktu ngecek nama aslinya, saya bingung. Nama aslinya Douwes Dekker itu Eduard, Edward, Eugene, atau Edu Art? Apakah Dr. Danudirja Setiabudi ini sama dengan Multatuli? Soalnya kayaknya nggak mungkin banget keduanya sama lantaran keduanya hidup di zaman yang berbeda. Yang satu tinggal di zaman tanam paksa. Yang satu ada di zaman pergerakan.
Sedikit browsing di Wikipedia, saya menemukan bahwa ternyata Douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudi) adalah cucu keponakan dari Douwes Dekker (Multatuli). Halaaah.... Jadi saudaranya Multatuli itu kakeknya Danudirja.
Tuh, saya jadi belajar sesuatu kan. Saya juga menemukan bahwa Multatuli itu dianggap sebagai sastrawan terbesar Belanda. Mungkin karena pengaruh tulisannya pada masa itu, meski kualitasnya diragukan. Oh, ya Multatuli juga menikah dengan istrinya (noni Belanda) di Purwakarta. Hmm... kalau dipikir-pikir Indonesia juga menyumbang 'kelahiran' sastrawan besar dunia. Walaupun dengan cara yang tidak mengenakkan. Topiknya tanam paksa, je....